Dari Balik Layar ke Puncak Kekuasaan: Perjalanan Mojtaba Khamenei Pimpin Iran

by -86 Views
indosat

Profil Mojtaba Khamenei: Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Penuh Kontroversi

Dunia kini menyoroti satu nama yang sebelumnya jarang muncul di permukaan: Mojtaba Khamenei. Putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei ini resmi menjadi pemimpin tertinggi Iran — jabatan paling berkuasa di Republik Islam Iran — menyusul wafatnya sang ayah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.


Dipilih oleh Majelis Pakar Iran

Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior telah memilih Mojtaba, seorang ulama berusia 56 tahun, sebagai penerus mendiang ayahnya. Keputusan ini menandai babak baru sejarah politik Iran, sekaligus memperlihatkan bahwa garis keras masih mencengkeram kekuasaan penuh atas negara tersebut.

Salah satu anggota Majelis Pakar, Mohsen Heidari Alekasir, menyampaikan bahwa kandidat dipilih berdasarkan arahan mendiang Khamenei. Bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah yang “dibenci oleh musuh”. Pernyataan itu secara langsung merujuk pada tanggapan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang tidak dapat diterima baginya.


Sosok yang Lama Bekerja di Balik Layar

Meski namanya jarang terdengar di ruang publik, pengaruh Mojtaba di dalam sistem kekuasaan Iran sesungguhnya sudah sangat besar sejak lama. Mojtaba mengumpulkan kekuasaan di bawah ayahnya sebagai tokoh senior yang dekat dengan pasukan keamanan Iran dan kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan.

Hubungan dekatnya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) memberikan pengaruh tambahan kepada Mojtaba di seluruh aparatur politik dan keamanan Iran. Menurut sumber yang memahami latar belakangnya, Mojtaba juga telah membangun pengaruh di balik layar sebagai “penjaga gerbang” ayahnya.


Latar Belakang dan Riwayat Hidup

Mojtaba lahir tahun 1969 di kota suci Mashhad dan tumbuh besar saat ayahnya membantu memimpin perlawanan oposisi terhadap Shah. Sebagai seorang pemuda, dia pernah bertugas bersama militer Iran dalam perang Iran-Irak.

Ia belajar di bawah bimbingan kaum konservatif agama di Qom, pusat pembelajaran ajaran Syiah, dan memiliki gelar Hojjatoleslam. Dia tidak pernah memegang posisi formal dalam pemerintahan Iran, namun pernah muncul dalam aksi-aksi loyalis meskipun jarang berbicara di depan umum.


Kontroversi dan Kritik

Penunjukan Mojtaba tidak lepas dari sorotan tajam. Para pengkritik menilai Mojtaba tidak memiliki kualifikasi keagamaan yang cukup untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran. Gelar Hojjatoleslam yang dipegangnya berada satu tingkat di bawah pangkat Ayatollah, posisi yang dipegang oleh mendiang ayahnya dan mendiang Ruhollah Khomenei, pendiri Republik Islam Iran.

Selain soal kualifikasi, ada pula persoalan prinsip. Peran Mojtaba telah sejak lama menjadi kontroversi di Iran, dengan para pengkritik menolak segala bentuk politik dinasti di negara yang menggulingkan monarki yang didukung AS pada tahun 1979.

Mojtaba juga menghadapi potensi perlawanan dari warga Iran yang menunjukkan kesiapan untuk melakukan unjuk rasa massal guna menekan tuntutan mereka akan kebebasan yang lebih besar, meskipun terjadi penindakan brutal oleh otoritas keamanan.

Baca Juga: Fitur Selfie Mirror Unik Realme 16 5G Mirip iPhone Air


Sanksi AS dan Delegasi Kekuasaan

Nama Mojtaba bahkan sudah masuk radar Amerika Serikat jauh sebelum ia resmi berkuasa. Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Mojtaba tahun 2019, dengan menyatakan bahwa dia mewakili pemimpin tertinggi dalam “kapasitas resmi meskipun tidak pernah terpilih atau diangkat ke posisi pemerintahan”.

Mendiang Khamenei sebelumnya telah mendelegasikan sebagian tanggung jawabnya kepada Mojtaba. Dikatakan telah bekerja sama erat dengan komandan pasukan Quds IRGC dan Basij, milisi keagamaan yang berafiliasi dengan IRGC.


Tantangan ke Depan

Sebagai pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba mewarisi tanggung jawab yang tidak ringan. Pemimpin tertinggi Iran memegang hak untuk mengambil keputusan akhir dalam urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran. Tekanan dari Barat terkait pengembangan senjata nuklir, ketegangan dengan Israel, serta tuntutan reformasi dari dalam negeri menjadi pekerjaan rumah besar yang kini ada di tangannya.

Mojtaba Khamenei bukan sekadar penerus dinasti. Dia adalah figur yang harus membuktikan legitimasinya di hadapan rakyat Iran dan dunia internasional. Apalagi di tengah situasi geopolitik yang semakin panas.

klik disini

No More Posts Available.

No more pages to load.